Postingan

#Segeralah

Gambar
“ Khoirul birri ‘aajilahu ,” Penah dengar hadis tentang ini kan teman?  Kalau belum coba buka lagi buku hadis di rak. Kamu pernah mencoba untuk mendalami makna yang terkandung dalam hadis ini? Ya man teman, sering kali kita mendengar kebaikan yang di ubar – ubar oleh cerdik - pandai, alim – ulama dan orang yang kita tuakan di manapun. Tapi, berat sekali rasanya nasihat yang masuk ke telinga kita untuk di cerna apalagi di praktikkan. Jujur, kamu pernah merasakan rasa itu tentunya. Kita tahu hal itu baik, kita tahu hal itu akan berbalik kebaikannya, kita tahu yang mereka ucapkan jika kita lakukan demi meraih ridho Allah SWT akan berganjar besar di akhirat nanti. Teman, banyak sekali hal yang menjadi alas an di lidah kita untuk sebuah kebiakan. Sungkan, enggan dan badmod saat hal – hal yang berbau kebaikan untuk di segerakan. Selalu kita tunda, selalu kita reject. Sadar kah kita saat itu? Sadar. Kenapa kita pending sebuah kebaikan? – nunduk ke bawah malu pada diri...

SINGKAT

Gambar
Hembusan nafas pertamamu di dunia, kau ingat? Ayahmu berbisik keras di telingamu, “…Laa ilaaha illallah…” Aliran darah dan nafasmu di warnai kalimat tauhid Laa ilaaha illallah Kau ingat? Saat kau merengek tak karuan, ibumu berusaha mediamkanmu Sambil mengayun bungkulan kain panjang Ibumu berdendang lagu kasidah, “ …Laa ilaaha illallah…” Akankah kau lupakan! Saat kaki – kaki mungil mulai melangkah Ayahmu menuntunmu ke surau kampung Suara tahlil jama’ah masjid menggema “ … Laa ilaaha illallah…” Mungkin kau tak paham saat itu Tapi, kalimat itu merasuk ke dalam narulimu yang dalam Coba kau ingat? Kau bukan lagi balita, kau sudah pandai berbicara Lidahmu mulai lihai dalam menyusun kata kata Ibumu menitipkanmu di TPA Pak ustad mengajarkanmu segala hal keagamaan “ … Laa ilaaha illallah …” Masa ini tak akn kau lupa! Baik dan buruk mulai dapat kau pilah Cara berifikirmu mulai berpola Tapi… Masihkan kalimat “…Laa ilaaha illallah…” terpatri...

6 PENYAKIT MEMATIKAN

Gambar
Keempat, Ehl-i iman birbirine bağlayan nurani rabitaları bilmemek, Ahli iman yang tidak tahu ikatan nurani diantara mereka. Ukhuwah. Persaudaraan. Redupnya tali persaudraan yang ada di dalam hati ahli iman. Mereka tidak lagi memperhatikan saudara – saudaranya, karib – kerabatnya, tetangga – tetangganya siapa pun yang juga saudara dalam keimanan. Tidak ada rasa peduli, acuh tak acuh dengan kehidupan saudara kita. Penyakit ini juga mematikan tubuh umat islam. Said Nursi mengatakan, penawarnya adalah Destek vermek, memberikan kontribusi. Ya, berikan dukungan terhadap saudara – saudara kita. Minimal, kita bertanya kabar kepadanya. Lebih baik lagi jika kita bisa memberikan lebih dari itu, dukungan moril atau lebih dari itu. Pupuk jiwa peduli kita terhadap saudara di sekitar kita dan dimanapun mereka berada. Sokong mereka dengan apa yang bisa kita perbuat. Kelima, Çeşit çeşit sarı hastalıklar gibi intişar eden istibdad, Perebedaan yang menjadi tirani seperti berbagai macam pen...

6 PENYAKIT MEMATIKAN

Gambar
Dalam buku karangan Said Nursi beliau menyebutkan ada 6 penyakit yang melanda oleh umat islam. 6 penyakit ini di sampaikan beliau saat Khutbah di negri syam ketika ada kunjungan dan silaturrahmi dengan ulama-ulama yang ada di syam. Hingga bab yang menjelaskan isi khutbah Said Nursi itu di sebut Hutbe Şamiye ( Khutbah di Syam ). Ada beberapa peristiwa yang terjadi di saat Sang Ustadz belum menaiki mimbar. Hingga akhirnya mimbar itu ditaklukan oleh pemiliknya, Said Nursi. Penyakit umat islam yang disampaikan oleh Said Nursi adalah penyakit umat islam yang terjadi pada masa itu dan masih berlaku hingga zaman sekarang. Inilah salah satu diantara kelebihan buku yang di karangnya, masalah – masalah dan nasihat –nasihat yang ada di dalamnya tidak hilang di telan zaman.  Karya – karya beliau tetap segar, hidup dan terang di setiap masa. Pertama, Ye'sin, Pesimisme. Banyak umat manusia yang hidup di dunia ini tanpa memilliki asa. Mereka sudah tidak lagi memiliki sifat optimis di d...

Bukan Aku, Tapi Kita! #4 - Selesai

Gambar
“Ting tong… ting tong… ting tong… “ “Aghhh…” Aku mendengus pelan. Membuka pelupuk mataku yang berat. Berat sekali. Pijakan syeitan di bulu mataku semakin kuat. Beratnya semakin bertambah. “Bangun, sebentar lagi waktu subuh akan masuk. Kalahkan nafsumu sendiri!” Hatiku berbisik. Bantal sofa masih terasa empuk, dalam suhu yang adem ini selimut tipis melillit hangat tubuhku. Suara itu kembali mengusik kenyamananku. Tidurku yang nyenyak terpecahkan oleh suara itu. “Ting tong... ting tong... ting tong...” Dari luar ada suara samar – samar yang kudengar, “Namaz, namaz, (Sholat, sholat,) Hadi...! (Ayo),” itu suara Bilal Abi ( abang ). Ya, pikiranku menerka kalau itu suara Bilal Abi. Tapi, Syeitan tetap semakin geram, pijakannya semakin kuat, pelupuk mataku ditariknya kebawah, “Lanjutkan tidurmu...” bisik halus syeitan ke telingaku. Semakin lihai meraka merayuku untuk tetap menutup mata, melanjutkan tidur, berbalut dengan selimut hangat di dalam cuaca yang lumayan dingin. Aku ke...

Bukan Aku, Tapi Kita! #3 ( Ben Değil, Biz )

Gambar
Seperti itulah mukaddimah dalam bab Hutbe Ş emiye. Dalam lembaran kitab selanjutnya berisi tentang khutbah yang di sampaikan oleh Said Nursi pada Jum’at itu.  Yang lebih dari kitab yang kami bedah selain dari isinya yang luar biasa, kami membedahnya dengan kitab yang menggunakan bahasa pengantar Usmani. Bahasa Usmani. Yayasan Hayrat salah satu dari banyak yayasan di Turki yang memelihara bahasa Usmani dengan terus membaca, menulis dan belajar dengan menggunakannya. Ya, seperti bahasa arab tapi tidak sama. Mungkin kalau kita di ranah Melayu mengenal bahasa Arab Melayu, nah seperti itulah lebih tepatnya. Dengan cara membaca yang hampir sama dengan tulisan yang menggunakan huruf latin. Di beberapa provinsi di Indonesia masih menjaga bahasa Arab Melayu. Masih perlu belajar banyak untuk bisa membaca kitab yang berbahasa Usmani. Suatu hal yang baik. Menjaga budaya asli dari negara yang positif. Sebuah pelajaran bagi aku, kamu dan kita bahwa menjaga kebudayaan positif yang ...